Minggu, 23 November 2008

Anas: "Nyok Kite Baca Bener2..Ust.Anis Matta nih!"

Dah lama ga dengerin Ust. Anis Matta,
Below are his inspiring speech and i'm happy to share it with you...sorry for those of you who has read it before..

Ustadz Anis Matta memulai dengan "Saya rasa antum tidak perlu
taujih, visi misi sudah jelas, kita hanya tinggal menunggu takdir
baik kita di 2009." Takdir bukanlah sesuatu yang kita ciptakan, akan
tetapi ia sesuatu yang kita `ikut' ciptakan. Antara kehendak kita
yang kita harapkan bertemu dengan kehendak Allah.

2009 adalah tahun keajaiban bagi banyak orang, banyak orang-orang di
luar PKS mengatakan 20% terlalu besar untuk PKS. Ikhwah di DPP
bilang: "Hanya keajaiban yang buat kita bisa dapat 20%." Saya
bilang, "Maka keajaiban itu harus kita wujudkan 2009 nanti. Bahkan,
kalau 20% itu keajaiban, maka kita ingin melampaui keajaiban itu.
20% adalah angka yang harus kita lampaui akhi". Kita adalah anak-
anak muda. Anak-anak muda ada untuk menciptakan keajaiban, partai
ini bertugas untuk ciptakan keajaiban. 20% adalah tugas sejarah
untuk kita. Umar ibn Khotthob pernah mengatakan, "Setiap saya
menghadapi masalah yang rumit, saya panggil anak muda".

SBY pernah ditanya: "Kenapa minta didukung PKS?" Jawabnya, "Saya
butuh dukungan moril dari PKS" –beliau tahu, bahwa kita ini tidak
bisa diharapkan untuk dukungan dana, karena PKS tidak punya duit.

Tahun `70-an presiden Korsel Park Jung He ke Aceh, dia lihat ayat
Qur'an di sebelah baiturrahman: "Innallaah laa yughoyyiru maa
biqoumin, hatta yughoyyiru maa bi anfusihim" Beliau
bertanya, "Artinya apa?" "Tuhan tidak mengubah keadaan suau kaum,
sampai kaum itu yang mengubah keadaannya sendiri."

Jadilah ayat itu dicatat, kemudian dibawa ke Korsel untuk dijadikan
slogan resmi pemerintah, "Tuhan tidak mengubah keadaan Korea
Selatan, sampai rakyat Korea yang mengubah keadaannya sendiri."
Padahal hanya satu ayat tapi luar biasa hasilnya sekarang. Kalau
kita karena kebanyakan ayat, ada 6666, jadi bingung mau mulai dari
mana.

Pendiri republik ini adalah anak muda, hanya saja pemuda yang
memulai dan melaksanakan reformasi tidak memimpin reformasi. Ini
yang salah. Ini menimbulkan ketidakpastian, maka inilah
tanggungjawab kita untuk mengakhiri ketidakpastian. Mereka yang
mengisi era pasca orba adalah orang yang menghabiskan 30 tahun
hidupnya di orde baru, ini dalam bahasa manajemen disebut
dismatch/diskontinu . Karena realitas berubah, tapi pikiran tidak
berubah.

Gaya kepemimpinan yang ditawarkan PKS adalah egaliter, demokratis.
Dalam politik indonesia belakangan, parpol tidak tawarkan sesuatu
yang baru bagi masyarakat, sehingga Suharto bisa naik kembali
menjadi presiden Indonesia yang paling dicintai rakyatnya di antara
presiden-presiden republik ini yang pernah ada. Kami menyebut masa
ini sebagai kepemimpinan nasional yang disconnecting dengan
bangsanya sendiri.

Maka kami tegaskan, bahwa 20% ini bukanlah angka, tetapi simbol dari
tekad.

Ketika Hasan al Banna memulai dakwahnya di Mesir, saat itu Mesir
masih dijajah Inggris. Imam Syahid mengawali dengan 7 sasaran
dakwah, dan poin ke-7 adalah Ustadziyatul `alam.. Sebuah cita-cita
besar. Bangsa yang sedang dijajah ingin menjadi guru bagi peradaban
manusia. Ini menghasilkan utopia, yang mana orang-orang bersahaja
saat itu percaya bahwa hal ini bisa diwujudkan, meskipun tidak pada
masa mereka.

Hampir seratus tahun kemudian, 80 tahun sekarang, IM menjadi jama'ah
yang legendaris karena cita-citanya jauh mendahului langkah kakinya.
Karena orang itu dipimpin bukan oleh seorang al Banna, tetapi oleh
ide-ide besar.

Seorang guru pernah membawa mangkuk besar kemudian diisi batu-batu
besar sambil bertanya pada murid-muridnya, "Apakah mangkuk ini sudah
penuh?" "Sudah," jawab muridnya.

Kemudian sang guru mengisi mangkuk itu dengan pasir, dan pasir itu
memenuhi sela antara batu-batu besar, kemudian sang guru kembali
bertanya, "Sudah penuhkah mangkuk ini?" Kali ini murid terpecah
menjadi dua, ada yang bilang sudah, ada yang bilang belum, meskipun
tidak tahu dimana belumnya.

Kemudian guru itu menyiramkan air kedalam mangkuk, dan air itupun
membasahi pasir dan memenuhi mangkuk itu sekali lagi.

Kemudian guru itu mengambil mangkuk yang baru, dan diisinya dengan
pasir, sejenak kemudian ia berkata, "Apakah mangkuk ini masih muat
untuk batu2 besar ini?" Spontan para murid mengatakan, "Tidak."

Maka seperti itulah kepala kita, jika kita isi dengan hal-hal yang
kecil, maka ia tidak akan pernah sanggup diisi oleh ide-ide
besar. "Fikirkanlah ide-ide besar, maka hal yang kecil akan termuat
dengan sendirinya."

Lalu kenapa PKS harus diiberi kesempatan memimpin republik ini?

Jawabannya tidak ada kecuali karena satu hal: "Keadilan", karena
jika kita sudah melihat para pemimpin lain sudah pernah gagal,
tolong beri satu kesempatan pada kader-kader PKS untuk memimpin
bangsa ini dan ikut gagal bersamanya.

Tapi jika kita bisa mengubah itu? Kita tidak butuh terima kasih dari
Indonesia .
Islam dan ke-Indonesia- an harus menjadi satu, setiap jengkal wilayah
teritorial republik ini adalah lahan dakwah kita. Islam dan ke-
Indonesia -an ibarat isi dan kulit, ibarat makna dan kata.

Ini adalah cerita kita sekarang, cerita bagaimana kita mulai sejarah
kemenangan dan menutupnya, cerita tentang bagaimana PKS menyiasati
semua keterbatasannya. Memenangkan pemilu 2009 adalah tugas sejarah
bagi PKS.
Jika kita membayangkan layar komputer atau display HP di masa depan.
Fitur apakah yang kita inginkan terpampang sebagai fitur utama? Jika
layar komputer dan display HP itu adalah indonesia , maka kita ingin
PKS menjadi fitur utamanya. PKS adalah fitur masa depan Indonesia .

Hal ini dikarenakan 2 hal: Ide besar dan great performance. Semua
ini ada di PKS. Dan partai apapun yang mampu tawarkan solusi bagi
Indonesia akan memimpin republik ini.

Banyak orang makan, sampah akan banyak, sampah adalah problem.
Partai yang bisa memberikan solusi untuk sampah, adalah masa depan.
230 juta penduduk indonesia dan terus bertambah, membutuhkan
lapangan kerja, mengakibatkan pengangguran. Partai yang bisa
memberikan solusi untuk pengangguran, adalah masa depan.

PKS adalah simbol dari ide-ide besar dan kinerja-kinerja besar.

Soekarno mampu memimpin bangsa ini 20 tahun. Kenapa? Karena
legendaris, berfikir tidak seperti orang lain berfikir, Soekarno
memikirkan revolusi. Soeharto 32 tahun? Kenapa? Karena ide besar itu
bernama pembangunan. Kenapa para Presiden republik ini yang menjabat
setelah reformasi hanya bertahan 12-16 bulan? Karena mereka
berfikiran pendek dan tak ada "narasi besar" dalam fikiran mereka.

Penafsiran tunggal bahwa reformasi adalah antitesis dari orde baru
adalah kesalahan. Orde lama dan baru memiliki kekurangan,
sebagaimana mereka juga memiliki kebaikan. PKS adalah matchmaker,
PKS mensintesa kebaikan-kebaikan periode sebelum reformasi. Kita
mensintesa demokrasi dan kesejahteraan. Demokrasi orde lama yang
mengeliminsai kesejahteraan, dan kesejahteraan orde baru yang
mengeliminasi demokrasi. Jika PKS bisa mewujudkan sintesa ini, maka
PKS adalah Masa Depan.

PKS menggabungkan orde lama yang adil tapi tidak makmur, dan orde
baru yang sejahtera tetapi tidak demokratis. Maka nama partai ini
adalah Partai Keadilan Sejahtera. Jika sekarang kita membuat
program "PKS Mendengar," sudah saatnya kita memulai ujung dari
program ini, yaitu "PKS Bicara"

Muhammad Iqbal dalam sebuah puisinya berkata:
Tuhan,
Ajarilah kami kembali ajaran tentang cinta.
Biar kami bisa kumpulkan lidi-lidi yang berserakan ini menjadi satu

Kita adalah simbol perekat yang akan memimpin reformasi. Lidi kita
adalah lidi yang bersih, tapi belum mampu bersihkan kotoran. Kita
harus bersatu dengan lidi lain yang meskipun masih kotor tapi kita
membentuk sapu lidi bersama. Itulah yang dituntut dari PKS
sebenarnya, tidak hanya bersih, tetapi juga membersihkan.

Kenapa reformasi jalan di tempat? Karena semua orang yang punya
potensi tidak tahu dimana tempatnya. KPK anggarannya 78 M setahun,
tapi uang yang dikembalikan ke pemerintah dari korupsi setahun 24 M.
Kasus BI adalah uang 100 M, tetapi anggaran untuk mengembalikan
kepercayaan pasar dan menstabilkan pasar akibat skandal itu yang
harus dikeluarkan BI adalah 5,5 M $. Padahal 100 M itu hanya 10 juta
$ paling banyak. Ini cara membunuh nyamuk dengan meriam.

Kita selalu menjadi yang pertama di tempat bencana, tapi sendirian
di sana tidaklah cukup, kita harus menjadi unsur perekat yang
membuat seluruh warga Indonesia peduli, itu baru cukup.

Berkumpul tanpa dipimpin itu seperti kita hadir dalam sebuah dauroh,
tempat sudah penuh, tapi tidak ada yang membuka dan memimpin acara,
tak ada yang dikerjakan bersama, semua hanya datang dan berbicara di
antara mereka tentang kebaikan dan kerja bersama. Perkumpulan
tersebut adalah sia-sia.

Maka matchmaker ini harus dibarengi dengan satu kemampuan lain,
yaitu Inovator. Inovator adalah berfikir lebih cepat. Fikiran kita
mendahului langkah kita dan langkah orang lain, bahkan langkah semua
orang di republik ini.

Seorang ulama dakwah menyatakan, "Jika satu jama'ah itu hanya
dipenuhi oleh massa yang banyak, maka jama'ah itu akan punya
jangkauan tangan dan kaki yang panjang tapi jangkauan mata yang
pendek, sehingga sering tersandung dan jatuhlah jama'ah itu.
Sebaliknya jika sebuah jama'ah itu hanya punya massa yang sedikit,
meskipun banyak intelektual maka jama'ah itu akan memiliki jangkauan
mata yang luas tetapi jangkauan tangan yang pendek, sehingga hanya
bisa berangan-angan tapi kemudian bersedih."

Maka Ibnu Qayyim mengatakan tidak boleh melihat akhwat, karena itu
akan mewariskan kesedihan. Pandangan mata akan diikuti hasrat,
tetapi hasrat diikuti ketidakberdayaan. Maka ia hanya akan
mewariskan kesedihan.

Kita memiliki semua yang dibutuhkan masyarakat; massa besar, tertib,
santun, militansi, visi misi, kesetiaan, ketaatan, semua.

Mengapa Zhilal itu legendaris? Karena ia mengembalikan makna wahyu,
bahwa Al Qur'an diturunkan ayat demi ayat untuk menjawab setiap
dimensi kemanusiaan yang terjadi di kalangan sahabat. Bahwa wahyu
selalu mendahului langkah kaki para sahabat.

Dua tahun sebelum fathu makkah, Allah sudah menurunkan ayat: "inna
fatahna …" –jika sampai masanya kalian akan masuk baitullah dengan
aman. Dr. Said Ramadhon al Buthy dalam Fiqhus Shirah menjelaskan
bahwa pada saat ayat tersebut diturunkan, mayoritas sahabat tidak
tahu apa arti dari ayat tersebut. Sampai mereka mengalaminya 2 tahun
kemudian dan tersadar bahwa Al-Qur'an telah mendahului mereka.

Perang Uhud sudah diramalkan 1 tahun sebelumnya pada surah Al-
Anfaal, Allah sudah memperingatkan kaum muslimin agar tidak tergoda.
Kenyataannya setelah perang itu benar-benar terjadi dan menyebabkan
Hamzah bin Abdul Mutholib –paman nabi, Mush'ab bin Umair –sahabat
yang sangat dicintai Nabi, dan 70 sahabat syahid. Allah tidak
kemudian menghinakan, tetapi turun ayat "laa khoufu, walaa tahzanu…"

PKS akan menjadi inovator hingga nanti di republik ini masyarakat
non-muslim akan mengatakan: "Perbedaan agama sudah tidak relevan
sekarang," dan masyarakat Muslim akan mengatakan: "Memang andalah
yang menampilkan wajah Islam dengan benar."

7 kata kunci strategi pemenangan pemilu 2009 tidak perlu dihafal
sebagaimana antum hafalkan al-Fatihah. Hanya butuh keyakinan dan
senyuman, kemudian rasakan aura kemenangan dan sebarkan itu kepada
para kader dakwah.

Itulah yang dirasakan para sahabat yang berperang bersama Kholid bin
Walid. Mereka tidak pernah bertanya strategi, taktik, tahapan
seperti apa. Berperang bersama akh Kholid saja itu sudah cukup.
Begitulah semangat dengan keyakinan.

Khalid bin Walid ketika membebaskan Palestina diajak berunding oleh
para pendeta, pendeta itu tahu bahwa mengalahkan Khalid dalam
peperangan adalah mustahil, maka mereka berniat meracun Khalid bin
Walid. Khalid tahu persis itu yang para pendeta itu lakukan, akan
tetapi Khalid tetap meminum air beracun itu untuk mengatakan pada
musuh Allah itu, "Dengan izin Allah, racun ini tidak akan
membunuhku," sambil membaca do'a yang setiap hari kita baca dalam
ma'tsurat: "Bismillaahilladzii laa yadhurru ma'asmihi syai'un fil
ardhi walaa fis samaa' wahuwas samii'ul `aliim."

Di Afrika, semua rusa bangun di pagi hari dengan satu kesadaran,
bahwa jika mereka tidak berlari lebih kencang dari singa, maka
mereka akan mati dimakan. Di Afrika, semua singa bangun di pagi hari
dengan satu kesadaran, bahwa jika mereka tidak berlari lebih cepat
dari rusa, maka mereka akan mati kelaparan.
Di Indonesia, semua petinggi partai lain bangun di pagi hari dengan
satu kesadaran, bahwa jika mereka tidak berlari lebih cepat dari
PKS, maka konstituen mereka akan habis, dan PKS akan menang di 2009.

Kita telah menyampaikan pesan pada mereka melalui ratusan pilkada di
daerah, bahwa setiap kita menang, kita memperolehnya dengan sarana
yang pas-pasan. Dan ketika mereka menang, mereka membayarnya dengan
harga yang terlalu mahal. Pesan itu telah jelas di kepala
mereka: "Pertarungan jangka panjang melawan PKS bukan suatu
pekerjaan yang mudah." Dalam keadaan miskin saja mereka harus
setengah mati kalahkan kita.

Sekarang ini pesan-pesan ini telah sampai, pasca mukernas bahkan
orang partai lain sudah berfikir: "PKS sudah masuk kandang kita."
Top ten media adalah Mukernas, 5 dari narasumber terbanyak yang
dihubungi selama pekan ini oleh media adalah PKS. Dan ini semua
hanya `isyarat pendahuluan' .

Sejarah seperti apa yang ingin kita tulis? Mari berimajinasi, saat
20, 30, 40 tahun lagi guru SD IT bercerita tentang sejarah hari ini
kepada cucu-cucu kita, "Dahulu kala.. ada sebuah partai..". Maka
ending cerita ini jelas, bahwa 20% adalah tugas sejarah untuk kita.

Sepanjang tahun saya selalu ditanya oleh Suara Pembaharuan dengan
pertanyaan yang sama, "Apakah Anda ingin membuat partai lagi jika
PKS tidak lolos ET?" Maka saya menjawab, "Jika 1999 kemarin kita
tidak lolos kemudian kita membentuk PKS, maka 2004 kami akan
membentuk Partai Keadilan dan Sejahtera dan Kebahagiaan, dan jika
2009 kita masih tidak lolos juga, kami akan membentuk Partai
Keadilan dan Sejahtera dan Kebahagiaan dan Kehormatan."

Wa antum a'lamu inkuntum mukminiin. Kemudian pertanyaan itu sekarang
berubah, "Apakah PKS siap memimpin republik ini?"…

Kita menjawab, "20% adalah cerita yang kita buat hari ini."

Disampaikan oleh M. Anis Matta (Ketua Tim Pemenangan Pemilu
Nasional), dalam Sosialisasi PEMILU Wilda WIJAYA, di Patra Jasa
Semarang , 17 Februari 2008.

Minggu, 31 Agustus 2008

SURAT UNTUK SAHABAT

Membeli kebahagiaan dengan "segepok uang", cukupkah ????

Gaji ABI Berapa?

Seperti biasa Ahmad, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka
di Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti
biasanya, Sarah, putra pertamanya yang baru duduk di kelas tiga
SD membukakan pintu untuknya.

Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama.

"Kok, belum tidur ?" sapa Ahmad sambil mencium anaknya.

Biasanya Sarah memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika
ia akan berangkat ke kantor pagi hari.

Sambil membuntuti sang abi menuju ruang keluarga, Sarah menjawab, "Aku
nunggu abi pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji abi ?"

"Lho tumben, kok nanya gaji abi ? Mau minta uang lagi, ya ?"

"Ah, enggak. Pengen tahu aja" ucap Sarah singkat.

"Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari abi bekerja sekitar 10 jam
dan dibayar Rp. 400.000,-. Setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari
kerja.Sabtu dan Minggu libur, kadang Sabtu abi masih lembur. Jadi, gaji
abi dalam satu bulan berapa, hayo ?"

Sarah berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar sementara
Papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Ahmad beranjak
menuju kamar untuk berganti pakaian, Sarah berlari mengikutinya. "Kalo
satu hari abi dibayar Rp. 400.000,-untuk 10 jam, berarti satu jam abi
digaji Rp. 40.000,- dong" katanya.

"Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, tidur" perintah ahmad. Tetapi
Sarah tidak beranjak.

Sambil menyaksikan abinya berganti pakaian,Sarah kembali bertanya, "abi,
aku boleh pinjam uang Rp. 5.000,- enggak ?"

"Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini
?abi capek. Dan mau mandi dulu.
Tidurlah".

"Tapi abi..."

Kesabaran Ahmad pun habis. "abi bilang tidur !" hardiknya mengejutkan
Sarah.

Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.

Usai mandi, Ahmad nampak menyesali hardiknya. Ia pun menengok Sarah di
kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Sarah didapati
sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp. 15.000,- di
tangannya.

Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu,
Ahmad berkata, "Maafkan abi, Nak.abi sayang sama Sarah. Tapi buat
apa sih minta uang malam-malam begini ? Kalau mau beli mainan, besok
kan bisa.

Jangankan Rp.5.000,- lebih dari itu pun abi kasih" jawab Ahmad

"abi,aku enggak minta uang. Aku hanya pinjam. Nanti aku kembalikan kalau
sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini".

"lya, iya, tapi buat apa ?" tanya Ahmad lembut.

"Aku menunggu abi dari jam 8. Aku mau ajak abi main ular tangga. Tiga
puluh menit aja. Mama sering bilang kalo waktu abi itu sangat
berharga. Jadi, aku mau ganti waktu abi. Aku buka tabunganku, hanya
ada Rp.15.000,- tapi karena abi bilang satu jam abi dibayar Rp.
40.000,- maka setengah jam aku harus ganti Rp. 20.000,-. Tapi duit
tabunganku kurang Rp.5.000, makanya aku mau pinjam dari abi" kata
Sarah polos..

Ahmad pun terdiam. ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu
erat-erat dengan perasaan haru sambil meneteskan air mata . Dia baru
menyadari, ternyata limpahan
harta yang dia berikan selama ini, tidak cukup untuk "membeli" kebahagiaan
anaknya.

"Bagi dunia kau hanya seseorang, tapi bagi seseorang kau adalah dunianya"

SAHABAT...
renungan ini hanya segelintir dari kehebatan dunia..
renungan ini hanya sebuah simbol dari lautan hidup yg harus kita renangi.

SAHABAT....
akankah kita sia-siakan harta berharga yang ALLAH titipkan pada kita..
suami yg ganteng yg diberikan oleh ALLAH
istri yang cantik yang tiada duanya
anak-anak yang manizz-manizz.

SAHABAT ...
tidak ada kata terlambat

oleh : ADAM PURDIAWAN

Sabtu, 02 Agustus 2008

Andalusia (711 - 1492 Masehi)

Bismillah. Tekad itu dipancangkan Thariq bin Ziyad. Sebanyak 7.000 orang pasukan yang dipimpinnya -mereka suku Berber dan Arab- telah selamat tiba di dataran Andalusia atau Spanyol. Mereka telah mengarungi selat yang memisahkan tanah Maroko di Afrika Utara dengan Eropa itu. Tanpa ragu sedikit pun Thariq memerintahkan untuk membakar kapal-kapalnya. Pilihannya jelas: terus maju untuk menang atau mati. Tak ada kata untuk mundur dan pulang.
Peristiwa di tahun 711 Masehi itu mengawali masa-masa Islam di Spanyol. Pasukan Thariq sebenarnya bukan misi pertama dari kalangan Islam yang menginjakkan kaki di Spanyol. Sebelumnya, Gubernur Musa Ibnu Nushair telah mengirimkan pasukan yang dikomandani Tharif bin Malik Tharif sukses. Kesuksesan itu mendorong Musa mengirim Thariq. Saat itu, seluruh wilayah Islam masih menyatu di bawah kepemimpinan Khalifah Al-Walid dari Bani Umayah. Thariq mencatat sukses. Ia mengalahkan pasukan Raja Roderick di Bakkah. Setelah itu ia maju untuk merebut kota-kota seperti Cordova, Granada dan Toledo yang saat itu menjadi ibukota kerajaan Gothik. Ketika merebut Toledo, Thariq diperkuat dengan 5.000 orang tentara tambahan yang dikirim Musa. Thariq sukses. Bukit-bukit di pantai tempat pendaratannya lalu dinamai Jabal Thariq, yang kemudian dikenal dengan sebutan Gibraltar. Musa bahkan ikut menyebarang untuk memimpin sendiri pasukannya. Ia merebut wilayah Seville dan mengalahkan Penguasa Gothic, Theodomir. Musa dan Thariq lalu bahu-membahu menguasai seluruh wilayah Spanyol selatan itu. Pada 755 Masehi, Abdurrahman -keturunan Keluarga Umayah yang lolos dari kejaran penguasa Abbasiyah-tiba di Spanyol. Abdurrahman Ad-Dakhil, demikian orang-orang menjulukinya. Ia membangun Masjid Cordova, dan menjadi penguasa tunggal di Andalusia dengan gelar Emir. Keturunannya melanjutkan kekuasaan itu sampai 912 Masehi. Kalangan Kristen sempat mengobarkan perlawanan "untuk mencari kematian" (martyrdom). Namun Dinasti Umayah di Andalusia ini mampu mengatasi tantangan itu. Abdurrahman Al-Aushat kemudian menjadikan Andalusia sebagai pusat ilmu terpenting di daratan Eropa. Pada 912, Abdurrahman An-Nasir mendengar kabar bahwa khalifah Abbasiyah di Baghdad tewas dibunuh. Ia lalu menggunakan gelar khalifah. Ia mendirikan universitas Cordova dengan perpustakaan berisi ratusan ribu buku. Hal demikian dilanjutkan oleh Khalifah Hakam. Pusat-pusat studi dibanjiri ribuan pelajar, Islam dan Kristen, dari berbagai wilayah. Ladang-ladang pertanian Spanyol tumbuh dengan subur mengadopsi kebun-kebun dari wilayah Islam lainnya. Sistem hidraulik untuk pengairan dikenalkan. Andalusia inilah yang mendorong era pencerahan atau renaissance yang berkembang di Italia. Kekacauan timbul setelah Hakam wafat dan kendali dipegang Manshur Billah -seorang ambisius yang menghabisi teman maupun lawan-lawannya. Kebencian masyarakat, baik Islam maupun Kristen mencuat. Situasi tak terkendalikan lagi setelah Manshur Billah wafat. Pada 1013, Dewan Menteri menghapuskan jabatan khalifah. Andalusia terpecah-pecah menjadi sekitar 30 negara kota. Dua kekuatan dari Maghribi sempat menyatukan kembali seluruh wilayah itu. Pertama adalah Dinasti Murabithun (1086-1143) yang berpusat di Marakesy, Maroko. Pasukan Murabithun datang buat membantu kalangan Islam melawan Kerajaan Castilla. Mereka memutuskan untuk menguasai Andalusia setelah melihat Islam terpecah-belah. Dinasti Muwahiddun, yang menggantikan kekuasaan Murabithun di Afrika Utara, kemudin juga melanjutkan kepemimpinan Islam di Andalusia (1146-1235). Di masa ini, hidup Ibnu Rusyd -seorang pemikir besar yang banyak menafsirkan naskah Aristoteles. Pada 1238 Cordova jatuh ke tangan Kristen, lalu Seville pada 1248 dan akhirnya seluruh Spanyol. Hanya Granada yang bertahan di bawah kekuasaan Bani Ahmar (1232-1492). Kepemimpinan Islam masih berlangsung sampai Abu Abdullah -meminta bantuan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella-- untuk merebut kekuasaan dari ayahnya. Abu Abdullah sempat naik tahta setelah ayahnya terbunuh. Namun Ferdinand dan Isabella kemudian menikah dan menyatukan kedua kerajaan. Mereka kemudian menggempur kekuatan Abu Abdullah untuk mengakhiri masa kepemimpinan Islam sama sekali. Sejak itu, seluruh pemeluk Islam (juga Yahudi), dikejar-kejar untuk dihabisi sama sekali atau berpindah agama. Kekejian penguasa Kristen terhadap pemeluk Islam itu dibawa oleh pasukan Spanyol yang beberapa tahun kemudian menjelajah hingga Filipina. Kesultanan Islam di Manila mereka bumihanguskan, seluruh kerabat Sultan mereka bantai. Memasuki Abad 16, Tanah Andalusia -yang selama 8 Abad dalam kekuasaan Islam-- kemudian bersih sama sekali dari keberadaan Muslim.

Minggu, 25 Mei 2008

Keterbatasan

Oleh: Fajar el Shahwah

Inilah komunitas manusia; yang mengelompok bukan karena mereka sama-sama dari satu garis keluarga, bukan karena mereka hidup dan besar dalam satu tempat yang sama, bukan karena mereka mempunyai kesamaan jenis pekerjaan, atau kebiasaan, atau apapun. Tapi komunitas itu mengelompok secara sadar karena kepentingan yang sama. Satu tujuan, satu garis perjuangan. Maka semua orang dalam komunitas itu menyatu padu, bekerja bersama, membahu badan, menyapih bumi, menjulang langit. Maka mewujudlah komunitas itu menjalani takdir sejarahnya. Dari kecil tak terlihat semula, sekarang tak tertampung oleh wadah-wadah besar negara. Bahkan pemikiran-pemikirannya berkembang mengangkasa, melampaui usia jaman pertumbuhan normalnya.


Namun perlu dicatat; bahwa komunitas itu adalah kelompok manusia biasa. Sama sekali manusia dengan seluruh sifat kemanusiaan yang melekatinya. Jika malaikat terhindarkan dari kesalahan, penuh nafas ketaatan, selalu tunduk dalam wilayah kebaikan; maka itulah faktanya. Tapi disebut manusia, lebih karena ia harus melakoni karakter kemanusiaannya. Ia tempat salah dan lupa, ia tempat lemah dan putus asa, mengeluh dan sejenisnya. Jika individu manusia dibalut segala kekhasan kemanusiaannya, maka komunitas manusia; tentu hanya mengumpulkan balutan kekhasan kemanusiaan individu-individunya.

Mungkin, komunitas akan lebih mampu menjaganya, membuat perisai stabilitas untuk mengontrol tindakan-tindakannya, memperbanyak sifat-sifat malaikat terejawantahkan dalam aksi-aksinya. Tapi, tetap saja mereka adalah manusia yang tidak akan mampu menghilangkan karakter dan watak aslinya. Tetap saja mereka akan membawa sunnah keterbatasannya.

Bukan kemudian keterbatasan itu yang menjadi alasan; atas sejumlah kelemahan yang mungkin ada, atas sejumlah kelalaian yang mungkin dibawa. Jika komunitas itu adalah benar kebaikan adanya, maka kebaikan itu pula yang akan menutup keterbatasan komunitas dan individunya, menjadi penebus atas kelemahan dan kelalaian produk-produk karya yang telah dipersembahkannya, dan tentu menjadi penyebab Sang Mahasegala memberi pintu maaf atasnya. Maka tetaplah bekerja; wahai individu-individu! Asal engkau tetap bersemangat dalam komunitas yang engkau yakini kebaikannya dan kelurusannya, maka ia kan menggiringmu; menjadi petunjuk jalan yang membersamaimu beroleh ridha-Nya. ::

Senin, 07 April 2008

taujih


Melukis Keindahan Hidup

Oleh: Muhammad Nuh


dakwatuna.com - Menapaki jalan hidup kadang seperti menggoreskan koas pada sebuah bahan lukisan. Mulus tidaknya goresan sangat bergantung pada jiwa sang pelukis. Jangan biarkan jiwa kering dan gersang. Karena lukisan hanya akan berbentuk benang kusut.

Bayangkan saat diri tertimpa musibah. Ada reaksi yang bergulir dalam tubuh. Tiba-tiba, batin diselimuti khawatir akibat rasa takut, tidak aman, cemas dan ledakan perasaan yang berlebihan. Tubuh menjadi tidak seimbang. Muncullah berbagai reaksi biokimia tubuh: kadar adrenalin dalam darah meningkat, penggunaan energi tubuh mencapai titik tertinggi; gula, kolesterol, dan asam-asam lemak ikut tersalur dalam aliran darah. Tekanan darah pun meningkat. Denyutnya mengalami percepatan. Saat glukosa tersalurkan ke otak, kadar kolesterol naik. Setelah itu, otak pun meningkatkan produksi hormon kortisol dalam tubuh. Dan, kekebalan tubuh pun melemah.

Peningkatan kadar kortisol dalam rentang waktu lama memunculkan gangguan-gangguan tubuh. Ada diabetes, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, kanker, luka pada dinding saluran pencernaan, gangguan pernafasan, dan terbunuhnya sel-sel otak.

Nalar pun menjadi tidak sehat. Tidak heran jika orang bisa melakukan sesuatu yang tidak wajar. Di antaranya, bunuh diri, marah yang tak terkendali, tertawa dan menangis yang berlebihan, serta berbagai pelarian lain: penggunaan narkoba dan frustasi yang berlarut-larut.

Kenapa hal tak enak itu bisa mulus bergulir pada diri manusia. Mungkin itu bisa dibilang normal, sebagai respon spontan dari kecenderungan kuat ingin merasakan hidup tanpa gangguan. Tanpa halangan. Tak boleh ada angin yang bertiup kencang. Tak boleh ada duri yang menusuk tubuh. Bahkan kalau bisa, tak boleh ada sakit dan kematian buat selamanya.

Ada beberapa hal kenapa kecenderungan itu mengungkung manusia. Pertama, salah paham soal makna hidup. Kalau hati tak lagi mampu melihat secara jernih arti hidup, orang akan punya penafsiran sendiri. Misalnya, hidup adalah upaya mencapai kepuasan. Lahir dan batin. Padahal kepuasan tidak akan cocok dengan ketidaknyamanan, gangguan, dan kesulitan.

Hal itulah yang bisa menghalangi seorang mukmin untuk berjihad. Allah swt. berfirman, “Hai orang-orang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu: ‘Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah,’ kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.” (At-Taubah: 38)

Kedua, kurang paham kalau keimanan selalu disegarkan dengan cobaan. Inilah yang sulit terpahami. Secara teori mungkin orang akan tahu dan mungkin hafal. Tapi ketika cobaan sebagai sebuah kenyataan, reaksi akan lain. Iman menjadi cuma sekadar tempelan.

Firman Allah swt., “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-Ankabut: 2-3)

Saad bin Abi Waqqash pernah bertanya pada Rasulullah saw. “Ya Rasulullah, siapa yang paling berat ujian dan cobaannya?” Beliau saw. menjawab, “Para nabi kemudian yang menyerupai mereka dan yang menyerupai mereka. Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau agamanya lemah dia diuji sesuai dengan itu (ringan) dan bila imannya kokoh dia diuji sesuai itu (keras). Seorang diuji terus-menerus sehingga dia berjalan di muka bumi bersih dari dosa-dosa.” (Al-Bukhari)

Kalau ada anggapan, dengan keimanan hidup bisa mulus tanpa mengalami kesusahan dan bencana. Itu salah besar. Justru, semakin tinggi nilai keimanan seseorang, akan semakin berat cobaan yang Allah berikan. Persis seperti emas yang diolah pengrajin hiasan. Kian tinggi nilai hiasan, kian keras emas dibakar, ditempa, dan dibentuk.

Memang, hakikat hidup jauh dari yang diinginkan umumnya manusia. Hidup adalah sisi lain dari sebuah pendakian gunung yang tinggi, terjal, dan dikelilingi jurang. Selalu saja, hidup akan menawarkan pilihan-pilihan sulit. Di depan mata ada hujan dan badai, sementara di belakang terhampar jurang yang dalam.

Maha Benar Allah dalam firman-Nya. “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. Maka tidakkah sebaiknya ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar?” (Al-Balad: 10-11)

Kesiapan diri tentang jalan hidup yang tak mulus itu mesti ada. Harus terus segar dalam jiwa seorang hamba Allah. Perhatikanlah senyum-senyum para generasi terbaik yang pernah dilukis umat ini. Di antara mereka ada Bilal bin Rabah. Ada Amar bin Yasir.

Masih banyak mereka yang terus tersenyum dalam menapaki pilihan hidup yang teramat sulit. Tanpa sedikit pun ada cemas, gelisah, dan penyesalan. Mereka telah melukis hiasan termahal dalam hidup dengan tinta darah dan air mata.

taujih


Melukis Keindahan Hidup

Oleh: Muhammad Nuh


dakwatuna.com - Menapaki jalan hidup kadang seperti menggoreskan koas pada sebuah bahan lukisan. Mulus tidaknya goresan sangat bergantung pada jiwa sang pelukis. Jangan biarkan jiwa kering dan gersang. Karena lukisan hanya akan berbentuk benang kusut.

Bayangkan saat diri tertimpa musibah. Ada reaksi yang bergulir dalam tubuh. Tiba-tiba, batin diselimuti khawatir akibat rasa takut, tidak aman, cemas dan ledakan perasaan yang berlebihan. Tubuh menjadi tidak seimbang. Muncullah berbagai reaksi biokimia tubuh: kadar adrenalin dalam darah meningkat, penggunaan energi tubuh mencapai titik tertinggi; gula, kolesterol, dan asam-asam lemak ikut tersalur dalam aliran darah. Tekanan darah pun meningkat. Denyutnya mengalami percepatan. Saat glukosa tersalurkan ke otak, kadar kolesterol naik. Setelah itu, otak pun meningkatkan produksi hormon kortisol dalam tubuh. Dan, kekebalan tubuh pun melemah.

Peningkatan kadar kortisol dalam rentang waktu lama memunculkan gangguan-gangguan tubuh. Ada diabetes, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, kanker, luka pada dinding saluran pencernaan, gangguan pernafasan, dan terbunuhnya sel-sel otak.

Nalar pun menjadi tidak sehat. Tidak heran jika orang bisa melakukan sesuatu yang tidak wajar. Di antaranya, bunuh diri, marah yang tak terkendali, tertawa dan menangis yang berlebihan, serta berbagai pelarian lain: penggunaan narkoba dan frustasi yang berlarut-larut.

Kenapa hal tak enak itu bisa mulus bergulir pada diri manusia. Mungkin itu bisa dibilang normal, sebagai respon spontan dari kecenderungan kuat ingin merasakan hidup tanpa gangguan. Tanpa halangan. Tak boleh ada angin yang bertiup kencang. Tak boleh ada duri yang menusuk tubuh. Bahkan kalau bisa, tak boleh ada sakit dan kematian buat selamanya.

Ada beberapa hal kenapa kecenderungan itu mengungkung manusia. Pertama, salah paham soal makna hidup. Kalau hati tak lagi mampu melihat secara jernih arti hidup, orang akan punya penafsiran sendiri. Misalnya, hidup adalah upaya mencapai kepuasan. Lahir dan batin. Padahal kepuasan tidak akan cocok dengan ketidaknyamanan, gangguan, dan kesulitan.

Hal itulah yang bisa menghalangi seorang mukmin untuk berjihad. Allah swt. berfirman, “Hai orang-orang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu: ‘Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah,’ kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.” (At-Taubah: 38)

Kedua, kurang paham kalau keimanan selalu disegarkan dengan cobaan. Inilah yang sulit terpahami. Secara teori mungkin orang akan tahu dan mungkin hafal. Tapi ketika cobaan sebagai sebuah kenyataan, reaksi akan lain. Iman menjadi cuma sekadar tempelan.

Firman Allah swt., “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-Ankabut: 2-3)

Saad bin Abi Waqqash pernah bertanya pada Rasulullah saw. “Ya Rasulullah, siapa yang paling berat ujian dan cobaannya?” Beliau saw. menjawab, “Para nabi kemudian yang menyerupai mereka dan yang menyerupai mereka. Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau agamanya lemah dia diuji sesuai dengan itu (ringan) dan bila imannya kokoh dia diuji sesuai itu (keras). Seorang diuji terus-menerus sehingga dia berjalan di muka bumi bersih dari dosa-dosa.” (Al-Bukhari)

Kalau ada anggapan, dengan keimanan hidup bisa mulus tanpa mengalami kesusahan dan bencana. Itu salah besar. Justru, semakin tinggi nilai keimanan seseorang, akan semakin berat cobaan yang Allah berikan. Persis seperti emas yang diolah pengrajin hiasan. Kian tinggi nilai hiasan, kian keras emas dibakar, ditempa, dan dibentuk.

Memang, hakikat hidup jauh dari yang diinginkan umumnya manusia. Hidup adalah sisi lain dari sebuah pendakian gunung yang tinggi, terjal, dan dikelilingi jurang. Selalu saja, hidup akan menawarkan pilihan-pilihan sulit. Di depan mata ada hujan dan badai, sementara di belakang terhampar jurang yang dalam.

Maha Benar Allah dalam firman-Nya. “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. Maka tidakkah sebaiknya ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar?” (Al-Balad: 10-11)

Kesiapan diri tentang jalan hidup yang tak mulus itu mesti ada. Harus terus segar dalam jiwa seorang hamba Allah. Perhatikanlah senyum-senyum para generasi terbaik yang pernah dilukis umat ini. Di antara mereka ada Bilal bin Rabah. Ada Amar bin Yasir.

Masih banyak mereka yang terus tersenyum dalam menapaki pilihan hidup yang teramat sulit. Tanpa sedikit pun ada cemas, gelisah, dan penyesalan. Mereka telah melukis hiasan termahal dalam hidup dengan tinta darah dan air mata.

dakwatuna.com - Menapaki jalan hidup kadang seperti menggoreskan koas pada sebuah bahan lukisan. Mulus tidaknya goresan sangat bergantung pada jiwa sang pelukis. Jangan biarkan jiwa kering dan gersang. Karena lukisan hanya akan berbentuk benang kusut.

Bayangkan saat diri tertimpa musibah. Ada reaksi yang bergulir dalam tubuh. Tiba-tiba, batin diselimuti khawatir akibat rasa takut, tidak aman, cemas dan ledakan perasaan yang berlebihan. Tubuh menjadi tidak seimbang. Muncullah berbagai reaksi biokimia tubuh: kadar adrenalin dalam darah meningkat, penggunaan energi tubuh mencapai titik tertinggi; gula, kolesterol, dan asam-asam lemak ikut tersalur dalam aliran darah. Tekanan darah pun meningkat. Denyutnya mengalami percepatan. Saat glukosa tersalurkan ke otak, kadar kolesterol naik. Setelah itu, otak pun meningkatkan produksi hormon kortisol dalam tubuh. Dan, kekebalan tubuh pun melemah.

Peningkatan kadar kortisol dalam rentang waktu lama memunculkan gangguan-gangguan tubuh. Ada diabetes, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, kanker, luka pada dinding saluran pencernaan, gangguan pernafasan, dan terbunuhnya sel-sel otak.

Nalar pun menjadi tidak sehat. Tidak heran jika orang bisa melakukan sesuatu yang tidak wajar. Di antaranya, bunuh diri, marah yang tak terkendali, tertawa dan menangis yang berlebihan, serta berbagai pelarian lain: penggunaan narkoba dan frustasi yang berlarut-larut.

Kenapa hal tak enak itu bisa mulus bergulir pada diri manusia. Mungkin itu bisa dibilang normal, sebagai respon spontan dari kecenderungan kuat ingin merasakan hidup tanpa gangguan. Tanpa halangan. Tak boleh ada angin yang bertiup kencang. Tak boleh ada duri yang menusuk tubuh. Bahkan kalau bisa, tak boleh ada sakit dan kematian buat selamanya.

Ada beberapa hal kenapa kecenderungan itu mengungkung manusia. Pertama, salah paham soal makna hidup. Kalau hati tak lagi mampu melihat secara jernih arti hidup, orang akan punya penafsiran sendiri. Misalnya, hidup adalah upaya mencapai kepuasan. Lahir dan batin. Padahal kepuasan tidak akan cocok dengan ketidaknyamanan, gangguan, dan kesulitan.

Hal itulah yang bisa menghalangi seorang mukmin untuk berjihad. Allah swt. berfirman, “Hai orang-orang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu: ‘Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah,’ kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit.” (At-Taubah: 38)

Kedua, kurang paham kalau keimanan selalu disegarkan dengan cobaan. Inilah yang sulit terpahami. Secara teori mungkin orang akan tahu dan mungkin hafal. Tapi ketika cobaan sebagai sebuah kenyataan, reaksi akan lain. Iman menjadi cuma sekadar tempelan.

Firman Allah swt., “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-Ankabut: 2-3)

Saad bin Abi Waqqash pernah bertanya pada Rasulullah saw. “Ya Rasulullah, siapa yang paling berat ujian dan cobaannya?” Beliau saw. menjawab, “Para nabi kemudian yang menyerupai mereka dan yang menyerupai mereka. Seseorang diuji menurut kadar agamanya. Kalau agamanya lemah dia diuji sesuai dengan itu (ringan) dan bila imannya kokoh dia diuji sesuai itu (keras). Seorang diuji terus-menerus sehingga dia berjalan di muka bumi bersih dari dosa-dosa.” (Al-Bukhari)

Kalau ada anggapan, dengan keimanan hidup bisa mulus tanpa mengalami kesusahan dan bencana. Itu salah besar. Justru, semakin tinggi nilai keimanan seseorang, akan semakin berat cobaan yang Allah berikan. Persis seperti emas yang diolah pengrajin hiasan. Kian tinggi nilai hiasan, kian keras emas dibakar, ditempa, dan dibentuk.

Memang, hakikat hidup jauh dari yang diinginkan umumnya manusia. Hidup adalah sisi lain dari sebuah pendakian gunung yang tinggi, terjal, dan dikelilingi jurang. Selalu saja, hidup akan menawarkan pilihan-pilihan sulit. Di depan mata ada hujan dan badai, sementara di belakang terhampar jurang yang dalam.

Maha Benar Allah dalam firman-Nya. “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. Maka tidakkah sebaiknya ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar?” (Al-Balad: 10-11)

Kesiapan diri tentang jalan hidup yang tak mulus itu mesti ada. Harus terus segar dalam jiwa seorang hamba Allah. Perhatikanlah senyum-senyum para generasi terbaik yang pernah dilukis umat ini. Di antara mereka ada Bilal bin Rabah. Ada Amar bin Yasir.

Masih banyak mereka yang terus tersenyum dalam menapaki pilihan hidup yang teramat sulit. Tanpa sedikit pun ada cemas, gelisah, dan penyesalan. Mereka telah melukis hiasan termahal dalam hidup dengan tinta darah dan air mata.

Sabtu, 05 April 2008

Ahlan wa Sahlan Alumni

Assalamualaikum wr wb

Saya selaku Ketua FOSMI FH UNS periode 2008 mengucapkan selamat datang bagi para alumni FOSMI FH UNS dari angkatan kapanpun dan sekarang di manapun. Semoga tetap istiqomah di jalan dakwah.

Semoga blogger ini bisa menjadi ajang untuk menjalin ukhuwah bagi alumni FOSMI FH UNS

ALLAHU AKBAR

Semoga MUNTIJAH

Wassalaamualaikum wr wb

M SILMAN WIDADI

E0005211

Kader Dakwah Yang Solid

Kader Dakwah Yang Solid

Oleh: Dr. Attabiq Luthfi, MA


Email This Post

dakwatuna.com - “Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (Al-Anfal: 45-46)

Kata kunci dari ayat ini dalam konteks soliditas adalah At-Tanazu’ yang ditafsirkan oleh para ulama tafsir seperti Ibnu Katsir dan Abu Su’ud sebagai perselisihan pendapat yang menjurus kepada perdebatan dan perpecahan untuk mengunggulkan kepentingan dan orientasi tertentu seperti yang terjadi pada perang Uhud dimana beberapa sahabat yang sudah jelas tugasnya, malah tidak mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya dan lebih memilih pendapat mereka masing-masing demi meraih keuntungan duniawi yang bersifat semu dan sesaat.

Sayyid Quthb memahami kedua ayat ini dan satu ayat sesudahnya sebagai rangkaian faktor untuk meraih pertolongan Allah dan anugerah kemenangan dari-Nya. Seperti juga Ibnu Athiyah menyebutkan bahwa surah Al-Anfal: 45-46 merupakan perintah Allah langsung agar orang- orang beriman tetap teguh untuk meraih janji kemenangan dan pertolongan Allah swt. Di antara faktor yang harus menjadi perhatian serius adalah faktor menjauhi dan menghindar dari hal-hal yang menyebabkan perselisihan, perpecahan dan perdebatan yang berujung kepada su’udz dzan dan ketidak harmonisan hubungan ukhuwwah antar seluruh personal dakwah, karena faktor ini ternyata dapat mempengaruhi dan memberi dampak pada faktor-faktor yang lainnya.

Ayat yang senada dengan peringatan Allah di atas adalah :

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. (Ali Imran: 103).

Kata kunci dari ayat ini adalah “At-Tafarruq” yang secara makna mirip dengan kata “At-tanazu’” yang menjadi kata kunci ayat sebelum ini. At-Tafarruq merupakan penyakit dakwah yang akan memporak-porandakan bangunan ukhuwwah dalam dakwah. Padahal ukhuwwah merupakan sendi dan pondasi dakwah seperti yang dituturkan oleh Sayyid Quthb dan realisasi dari bangunan taqwa yang menjadi pondasi utama gerakan dakwah seperti yang diisyaratkan oleh Allah melalui ayat ini dan ayat sebelumnya. Dengan kedua pondasi ini, bangunan dakwah akan kuat, solid, hidup dan dinamis serta mampu menjalankan peran Amar Ma’ruf Nahi Munkar seperti yang difahami secara korelatif dari ayat setelahnya.

Ukhuwwah yang dimaksud adalah ukhuwwah fiLlah, ala ManhajiLlah dan Litahqiq manhajiLlah (ukhuwwah karena Allah, atas dasar manhaj Allah dan untuk merealisasikan manhaj-Nya).
Kemudian ayat berikutnya yang berada di akhir surah Ali Imran yang menjadi perintah Allah dalam konteks dakwah dan perjuangan adalah senantiasa teguh dan kokoh dalam kesabaran karena memang perjalanan dakwah tidak mengenal kata akhir sehingga dibutuhkan kesabaran yang ekstra dan ini merupakan syarat untuk meraih kemenangan dan kejayaan (Al-Falah). Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung”. (Ali Imran: 200)

Cukuplah tiga rangkaian ayat-ayat di atas menjadi bahan tadabbur dan refleksi kita untuk mengukur sejauh mana peringatan dan pesan Allah tersebut senantiasa mewarnai seluruh gerak dan dinamika dakwah ini. Begitulah memang dakwah yang terdiri dari beragam komponen yang harus saling bersepadu, ibarat sebagai sebuah kendaraan (karena dakwah seringkali diilustrasikan dengan kendaraan) dengan beragam komponen dan onderdil yang menyatu dengannya; roda, kemudi, busi, aki dan sebagainya, termasuk yang paling urgen di dalamnya adalah mesin kendaraan. Bergeraknya sebuah kendaraan; lamban atau cepat ditentukan dengan peran seluruh komponen yang ada. Dinamisnya sebuah dakwah sangat ditentukan oleh seluruh komponen dakwah dari para kader yang dimilikinya, media dan fasilitas penunjang serta para pemimpin yang bijak yang memberi arahan dan keputusan yang tepat.

Dalam perjalanannya, seluruh komponen kendaraan tadi tentunya memerlukan perawatan, pemeliharaan dan servis yang berkesinambungan agar laju gerak kendaraan bisa tetap stabil, terukur dan terarah. Begitupula dengan dakwah, seluruh komponen dakwah sangat membutuhkan penyegaran, perhatian dan pembinaan yang berterusan dan berkesinambungan secara bertahap sesuai dengan tingkat kebutuhannya. Disinilah peri pentingnya soliditas kader yang menjadi mesin penggerak roda dakwah.

Di usia dakwah yang sedang menginjak usia matang, maka tantangan ke depan akan lebih variatif, namun tetap kekuatan yang akan bisa melawannya adalah soliditas kader. Meminjam istilah Muhammad quthb bahwa gerak roda dakwah ditentukan oleh gerak aktif para da’i (kader dakwah). Di tangan mereka dakwah ini maju, berkembang dan menebar kebaikan. Ketika da’i mengalami kelesuan apalagi kemandekan, maka akan sangat berpengaruh kepada perjalanan dakwah itu sendiri.

Dalam konteks soliditas ini, paling tidak terdapat dua suplemen utama dalam rangka membangun soliditas internal para da’i (kader dakwah), yaitu kematangan spritualitas dan kekokohan moralitas. Kematangan spritualitas merupakan cermin kedekatan dan keharmonisan hubungan dengan sang Khaliq. Sedangkan kekokohan moralitas merupakan bukti keteladanan kader dakwah di tengah masyarakat. Dua potensi inilah menurut Dr. Ali Abdul Halim Mahmud yang akan menjadi back up di masa-masa sulit dan masa pancaroba dakwah yang harus menjadi fokus perhatian dakwah. Karena sesungguhnya persoalan inti dakwah dalam tinjauan anashirnya bukan pada wasilah, uslub atau madah dakwah, tetapi yang lebih utama adalah persoalan da’i (kader dakwah) itu sendiri yang menjadi sentral perjalanan dakwah.

Betapa banyak tentunya pesan dan arahan Allah yang ditujukan khusus kepada para da’i-Nya agar dakwah ini tetap berjalan di atas rel yang diridhoi-Nya dan membuahkan hasil berupa kebaikan dan kemaslahatan bersama.

Jangan sampai citra dakwah justru tercoreng sendiri oleh para da’i-Nya “Ad-Dakwatu Mahjubatun bid Du’at”. Allahu a’lam

Jumat, 29 Februari 2008

ikatan alumni FOSMI Fakultas Hukum UNS

Assalamu'alaikum wr.wb.
FOSMI dah punya blogspot nieh.....buat alumni FOSMI yg mau crita/sharing/kasih info buat temen2 yg lain masuk aj ke blogspot nie ya......
password blogspot: nanarositasari
Syukron
Wassalamu'alaikum wr.wb.